Back to Top

Tuesday, March 14, 2017

SUHU DAN PEMUAIAN ZAT

SUHU DAN PEMUAIAN ZAT
Makalah Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah “IPA”
Dosen Pengampu: Rizki Amalia Sholihah, M.Pd.




Disusun Oleh:
Amin Tohari
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM SUNAN GIRI
PONOROGO
2016
                                                                   2016




KATA PENGANTAR
Segala puji hanya milik Allah SWT. Dia-lah pencipta sekaligus pemilik seluruh alam semesta ini beserta isinya. Yang menciptakan siang dan malam dan menjadikannya bergantian secara teratur. Dan telah menjadikan matahari sebagai sumber kehiduppan di bumi ini. Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah SAW. Pemimpin umat yang dijadikan khalifah sebagai pengatur dan rahmat bagi kelangsungan dan keharmonisan kehidupan dan keseimbangan alam ini.
Dengan pertolongan dan rahmat Allah pula, penyusun dapat menyelesaikan tugas makalah Suhu dan Pemuaian Zat ini. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah IPA 1 yang diajarkan di Institut Agama Islam Sunan Giri Ponorogo, dengan harapan semoga makalah ini dapat memberikan kemanfaatan bagi penyusun khususnya dan  para pembaca pada umunya, sekaligus dapat digunakan sebagai bahan kuliah dan diskusi pada tatap muka dan perkuliahan.
Tentu saja kehadiran makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Maka dari itu penyusun berharap agar para pembaca mau memberikan kritikan dan masukan yang positif dan saran-sarannya kepada penyusun guna menjadikan penyusunan makalah yang lebih baik lagi kedepannya.
Merupakan suatu harapan pula, semoga makalah ini tercatat sebagai amal baik dan menjadi motivator bagi penyusun untuk menyusun karya tulis yang lebih baik lagi dan lebih bermanfaat. Amin.  
Badegan, 04 November 2016
Penyusun




DAFTAR ISI
SAMPUL MAKALAH .........................................................................................................  i
KATA PENGANTAR .........................................................................................................  ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................................  iii
DAFTAR TABEL DAN GAMBAR ...................................................................................  iv
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang ......................................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah .................................................................................................  1
C.     Tujuan Pembahasan ..............................................................................................  1
BAB II PEMBAHASAN
A.     Pengertian Suhu ....................................................................................................  2
B.     Pemuaian Zat ........................................................................................................  3
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan ...........................................................................................................  11
B.     Saran .....................................................................................................................  11
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................  12


                                                              



Daftar Tabel Dan Gambar
Tabel Koefisien Muai Panjang ....................................................................................  4
Gambar 0.1 .................................................................................................................  4

Tabel Koefisien Muai Ruang ......................................................................................  8 
BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Secangkir kopi, atau mungkin coklat panas yang masih mengepulkan asap, dibiarkan demikian. Namun selang waktu beberapa menit, panasnya sudah tidak sama seperti saat pertama disajikan. Mengapa demikian? Kabel listrik yang menggantung disetiap tiang listrik sepanjang jalan, pemasangannya selalu kendur, tidak terlalu kencang. Apakah PLN lupa, atau ada alasannya? Setelah mempelajari suhu dan pemuaian zat, serta hal-hal yang berkaitan dengan dua hal tersebut, maka kalian dapat menjawab pertanyaan ini.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan suhu?
2.    Apa yang dimaksud dengan pemuaian zat?
C.   Tujuan
1.    Untuk Mengetahui definisi dari Suhu
2.    Untuk Mengetahui pemuaian zat.
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Suhu
Konsep suhu (temperatur) berasal dari ide kualitatif tentang “panas” dan “dingin” yang didasarkan atas indera perasa. Suatu benda yang rasanya panas pada umumnya memiliki suhu yang lebih tinggi daripada benda yang dingin. Jadi, suhu merupakan suatu besaran yang menunjukkan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda[1]. Pada siang hari ketika matahari bersinar terang, udara akan terasa panas. Sebaliknya, pada malam hari udara terasa dingin. Bagaimanakah kita mengetahui perbedaan rasa panas pada siang hari dan dingin pada malam hari?. Ketika kita menyentuh secangkir kopi panas, tangan terasa panas. Namun sebaliknya, ketika kita menyentuh segelas es jeruk maka tangan terasa dingin. Bagaimanakah cara membedakan rasa panasnya kopi dan dinginnya es? Ya, bisa jadi dengan menggunakan perasaan. Akan tetapi, perasaan tidak dapat menjelaskan perbedaan panas dan dingin dengan teliti. Maka dari itu untuk mengetahui perbedaan panas dan dingin suatu benda secara akurat.
Oleh karena itu, untuk mengukur suhu secara tepat diperlukan alat ukur suhu yang dinamakan termometer. Untuk mengukur suhu benda bisa dengan menyentuhkan bagian termometer kepada objek yang akan diukur suhunya maka akan menampakkan nilai dari suhu benda tersebut. Di antara satuan-satuan penyebut suhu adalah Celcius, Reamur, dan  Fahrenheit.
Berikut adalah penjelasan singkat mengenai beberapa perbedaan sekaligus perbandingan dari berbagai skala penunjuk suhu dari berbagai jenis skala di atas, perinciannya:
a.          Termometer Celcius, mempunyai titik beku air 00 & titik didih air 1000
b.         Termometer Reamur, mempunyai titik beku air 00 & titik didih air 800
c.          Termometer Fahrenheit, mempunyai titik beku air 320 &titik didih air 2120

 Dengan demikian dari ketiganya dapat digambarkan sebuah perbandingan skala untuk air sebagai berikut :

Jika titik didih dari masing-masing termometer adalah C = 100 oC, R = 80 oR, dan F = 212 oF. Dan titik bekunya C = 0 oC, R = 0 oR, dan F = 32 oF, maka akan kita temukan perbandingan sebagai berikut:
C : R : (F-32) = 100 : 80 : (212-32)
 = 100 : 80 : 180
C : R : (F-32) = 5 : 4 : 9
 = 5 : 4 : 9
                
tR =  tC
tF =  tC + 32
tR =  (tF – 32)
 

              
Selain 3 jenis termometer di atas, derajat panas sering dinyatakan dengan derajat mutlak atau derajat KELVIN ( oK )
T = t C + 273o
                                                                                                                                                                                       T = suhu dalam oK
tC = suhu dalam oC
B.       Pemuaian Zat
Pemuaian adalah bertambah besarnya ukuran suatu benda dikarenakan adanya  kenaikan suhu yang terjadi pada benda tersebut[2]. Kenaikan suhu yang terjadi menyebabakan benda itu mendapatkan tambahan energi berupa kalor yang menyebabkan molekul-molekul benda tersebut bergerak lebih cepat. Hampir semua zat bila dipanaskan akan memuai dan jika didinginkan akan menyusut, kecuali air di antara suhu 0 oC dan 40 oC[3]. Berikut 3 macam pemuaian yang terjadi pada zat padat, zat cair dan gas:
1.    Pemuaian Zat Padat
Jika kita memiliki batang besi kemudian besi tersebut dipanaskan dengan suhu yang tinggi, apa yang terjadi pada besi setelah proses pemanasan?. Pada umumnya besi akan memuai ke segala arah: ke arah panjang, lebar, dan tebal. Alat untuk mengetahui sekaligus membuktikan pemuaian zat padat adalah Musschenbroek. Yang mana pada alat ini terdapat tiga batang logam yang berbeda, yaitu: alumunium, tembaga dan besi.
Pada saat ketiga benda logam yang ini dipanaskan maka akan nampak adanya perubahan ukuran batang logam dari ukuran semula. Peristiwa penambahan ukuran inilah yang dinamakan “Pemuaian”. Pada zat padat mengalami tiga pemuaian, yaitu:
a.    Muai Panjang
Setiap benda jika dipanaskan akan memuai ke arah panjang. Antara  satu benda dengan benda yan lain memiliki ukuran pemuaian yang berbeda-beda, hal ini dikarenakan besarnya koefisien muai panjang dari masing-masing benda yang tidaklah sama. Koefisien muai panjang adalah bilangan yang menunjukkan pertambahan panjang suatu zat padat jika suhunya dinaikkan setiap 1oC. Berikut adalah tabelnya:
Tabel Koefisien Muai Panjang
Jenis Zat
Koefisien Muai Pnjang (α)
Kaca
9 x 10-6
Baja
11 x 10-6
Alumunium
24 x 10-6
Platina
9 x 10-6
Tembaga
17 x 10-6
Timah Hitam
29 x 10-6
Perunggu
19 x 10-6
Kuningan
19 x 10-6

             lo


                                  lt                                             
Gambar 0.1. Perumpamaan besi yang bertambah panjang
Misalkan batang besi mula-mula memiliki panjang lo, kemudian dipanaskan dari suhu t1 oC sampai dengan t2 oC dan koefisien muai panjang besi adalah , maka pertambahan panjang besi( ) dapat dinyatakan dengan persamaan:
∆l = lo.α.∆t sehingga panjang benda pada suhu t2 dapat ditulis dengan persamaan:
lt = lo(1 + α.∆t)
Keterangan : ∆l
=
Pertambahan panjang
lo
=
Panjang mula-mula
Α
=
Koefisien muai panjang
∆t
=
Perubahan suhu
lt
=
Panjang zat setelah dipanaskan
Contoh Soal:
∆t = t2 – t1
= 70 – 40
= 30
lt = lo (1+α.∆t)
= 1 (1 + 11x10-6 . 30)
= 1 (1 + 0,00033)
= 1,00033m

Pada suhu 40 oC sebatang baja ( -6) memiliki panjang 1m. Hitunglah panjang baja pada saat suhunya 70 oC!
Penyelesaian:
Diketahui t1 = 40 oC
t2 = 70 oC
α = 11x10-6
lo = 1m
Ditanya lt = ...?
 Jawab:
b.    Muai Luas
Suatu benda padat yang berbentuk lempengan apabila dipanaskan maka panjang dan lebar benda tersebut akan mengalami pemuaian. Artinya benda tersebut mengalami pertambahan luas dan lebar. Yang mana besarnya nilai pemuaian luas benda tersebut juga dipengaruhi oleh koefisien muai luas. Setiap benda memiliki nilai koefisien yang berbeda-beda. Koefisien muai luas disimbolkan dengan β(beta). Hubungan antara koefisien muai panjang(α) dengan koefisien muai luas(β) adalah β = 2α.
Jika terdapat sebatang logam yang memiliki luas mula-mula Ao dan koefisien muai luas β dipanaskan dari suhu t1 sampai t2 maka pertambahan luasnya:
∆A =  Ao.β.∆t sehingga luas pada suhu t2 dapat ditulis dengan persamaan
At = Ao (1 + β.∆t)
 Keterangan ∆A
=
Pertambahan Luas
Ao
=
Luas mula-mula
β
=
Koefisien muai luas
∆t
=
Perubahan suhu
At
=
Luas zat setelah dipanaskan
Contoh soal:
Batang Alumunium yang luasnya 4 m2  dipanaskan dari suhu 75 oC, Koefisien muai panjang alumunium 24 x 10-6. Hitunglah luas alumunium pada suhu 125oC!
Penyelesaian:
Diketahui t1
=
75 oC
β = 2α = 2 . 24x10-6 = 48x10-6
t2
=
125 oC
Luas zat padat setelah dipanaskan adalah
Α
=
24 x 10-6
At = Ao (1 + β.∆t)
Ao
=
4 m2
At = 4 (1 + 48x10-6 .50)
Ditanya At
=
...?
At =  4.1,0024
Jawab:


At = 4,0096 m2
c.    Muai Ruang/Volume
Untuk zat padat yang mempunyai ruang jika dipanaskan maka akan mengalami pemuaian, yang mana pemuaian ruang pada setiap benda itupun berbeda-beda pula. Penyebabnya adalah adanya koefisien muai ruang yang berbeda. Koefisien muai ruang disimbolkan dengan γ(gamma). Hubungan antara koefisien muai ruang(γ) dengan koefisien muai panjang(α) adalah γ = 3α.
Pada pemuaian ruang/volume berlaku rumus:
∆V = Vo .γ.∆t
Sehingga volume pada suhu t2 dapat ditulis persamaan sebagai berikut:
Vt = Vo (1 + γ.∆t)
Keterangan ∆V
=
Pertambahan Volume
Vo
=
Volume mula-mula
γ
=
Koefisien muai Volume
∆t
=
Perubahan suhu
Vt
=
Volume zat setelah dipanaskan
Contoh soal:
Sebuah besi baja berbentuk kubus yang memiliki volume 40 m3 dipanaskan pada suhu 40 oC, koefisien muai panjang baja adalah 11x10-6. Hitunglah volume akhir baja tersebut pada suhu 90 oC!
Penyelesaian:
Diketahui t1
=
40 oC
γ = 3α = 3 . 11x10-6 = 33x10-6
t2
=
90 oC
Volume zat padat setelah dipanaskan adalah
α
=
11 x 10-6
Vt = Vo (1 + γ.∆t)
Vo
=
40 m3
Vt = 40 (1 + 33x10-6 .50)
Ditanya Vt
=
...?
Vt =  40.1,0165
Jawab:


Vt = 40,66 m3
2.    Pemuaian zat cair
Pada umumnya zat cair jika di panaskan akan memuai. Namun tidak sepenuhnya berlaku pada air, saat dipanaskan dari suhu 0 oC sampai 4 oC air akan menyusut, baru ketika suhu lebih dari 4 oC, air akan memuai. Peristiwa ini dinamakan dengan Anomali Air atau Keistimewaan Air. Dengan adanya sifat anomali air, maka:
a.       Volume air paling kecil berada pada suhu 4 oC
b.      Massa jenis air paling besar berada pada suhu 4 oC.
Karena sifat zat cair bentuknya berubah, namun volumenya tetap, maka zat cair tidak bisa dikatakan mengalami pertambahan panjang akan tetapi mengalami muai volume atau muai ruang. Muai ruang adalah pertambahan volume suatu zat cair karena dianikkan suhunya. Muai ruang zat cair dapat diamati dengan alat yang bernama Dilamometer. Dilamometer adalah sebuah labu gelas yang mempunyai pipa kecil berskala. Muai volume zat cair dapat dirumuskan sebagai berikut:
Vt = Vo (1 + γ.∆t)
Keterangan Vo
=
Volume mula-mula
γ
=
Koefisien muai Volume
∆t
=
Perubahan suhu
Vt
=
Volume zat setelah dipanaskan
Berikut tabel kofisien muai ruang dari sebagian zat cair:
Tabel Koefisien Muai Ruang
Jenis Zat
Koefisien Muai Ruang (γ)
Alkohol
12 x 10-4
Gliserin
5 x 10-4
Minyak parafin
9 x 10-4
Raksa
2 x 10-4
Air
2,1 x 10-4
Bensin
96 x 10-4
Contoh soal:
Sebuah botol kaca 1 liter berisi air raksa yang bersuhu 0 oC. Jika botol tersebut dipanasi sampai suhu 90 oC, serta koefisien muai panjang botol dan koefisien muai ruang raksa adalah masing-masing 10x10-6 dan 18,2x10-5. Maka volume raksa yang tumpah pada suhu 90 oC adalah?
Penyelesaian:
Diketahui t1
=
0 oC
γbotol = 3α = 3 . 10x10-6 = 3x10-5
t2
=
90 oC
Volume raksa setelah dipanaskan adalah
γraksa
=
18,2x10-5
Vt = Vo (1 + (γraksabotol).∆t)
αbotol
=
10 x 10-6
Vt = 1 (1 + (18,2x10-5 – 3x10-5).90)
Vo
=
1 liter
Vt = 1 (1 + (18,2x10-5 – 3x10-5).90)
Ditanya Vtumpah
=
...?
Vt =  1 (16,2x10-5.90)
Jawab:


Vt = 1,458 liter
3.    Pemuaian Gas
Semua gas apabila dipanaskan akan memuai dan apabila didinginkan akan menyusut, tetapi tidak bisa dikatakan bahwa gas mengalami pertambahan panjang. Sebab merupakan sifat dari gas itu sendiri bahwa bentuk dan volumenya selalu berubah, sehingga gas hanya memiliki muai volume/ruang. Muai vulome gas jauh lebih besar dibandingkan dengan muai benda padat dan cair. Pemuaian pada gas dipengaruhi oleh tekanan, volume dan suhu. Jika gas dipanasi maka ketiga besaran tersebut akan mempengaruhi keadaan gas. Hal ini dapat dipelajari dalam hukum Boyle, Hukum Gay Lussac, dan Hukum Boyle-Gay Lussac.
Hukum Boyle
Hukum Boyle ini terjadi pada proses Isotermis, yaitu proses dimana suhu gas selalu tetap(t tetap). Sehingga berlaku rumus:
P1V1 = P2V2
Hukum Gay Lussac
Hukum ini terjadi pada proses Isokhoris, yaitu proses dimana volume gas tetap(Vtetap), maka berlaku rumus:
P1 = P2
T1    T2
Untuk keadaan Isobaris, yaitu keadaan dimana tekanan(P) tetap, maka berlaku rumus
V1 = V2
T1     T2
Hukum  Boyle-Gay Lussac
Hukum ini berlaku apabila tekanan(P), Volume(V), dan suhu berubah, sehingga persamaannya dapat ditulis:
P1V1 = P2V2
  T1        T2
Keterangan V1
=
Volume mula-mula
T1
=
Suhu mula-mula
P1
=
Tekanan mula-mula
T2
=
Suhu akhir
V2
=
Volume akhir



P2
=
Tekanan akhir






[1] Bambang Ruwanto, Fisika Dasar Prodi IPA (Suhu dan Kalor) (Yogyakarta : staff uny, 2016), 3.
[2] Shofwan Ridho, Buku Ajar Fisika untuk SMA/MA kelas Xsemester genap, (t.t : Citra Pustaka, t.t), 34.

 BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Suhu merupakan suatu besaran yang menunjukkan ukuran derajat panas atau dinginnya suatu benda. Alat untuk mengukur suhu dinamakan termometer. Termometer sendiri terbagi menjadi banyak jenis, namun secara umum yang sering digunakan adalah termometer celcius, reamur, fahrenheit dan kelvin.
Pemuaian adalah bertambah besarnya ukuran suatu benda karena kenaikan suhu yang terjadi pada benda tersebut. Pemuaian dapat terjadi pada benda apapun, termasuk diantaranya adalah benda padat, cair maupun gas.
B. SARAN 
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidaklah lepas dengan hal-hal yang berkaitan dengan suhu dan pemuaian. Maka dari itu dengan kita mempelajari Ilmu Pengetahuan Alam (pada bab ini adalh Suhu dan Pemuaian Zat) menjadikan kita lebih berpengalaman dalam menyikapi kejadian-kejadian alam yang erat kaitannya  dengan suhu dan pemuaian.
Dan kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna, maka kami akan sangat berterima kasih apabila dari pembaca yang budiman berkenan memberikan kritik yang positif kepada kami. 

DAFTAR PUSTAKA
Ridho, Shofwan. 2013. Buku Ajar Fisika untuk SMA/MA. t.t: Citra Pustaka.
Suko w, Prasetyo. Mangesti, Widyana. 2013. Fisika, Modul Pembelajaran Siswa. Madiun: Anugerah Agung.
Ruwanto, Bambang. 2016. Fisika Dasar prodi IPA(Suhu dan Kalor). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Dari staff uny, (Online), (http://staff.uny.ac.id), diakses 28 Oktober 2016




No comments:

Post a Comment