"Filsafat itu rumit dan menyesatkan akal pikiran. Adalah pendapat dari sebaian orang yang kurang mampu memahaminya"
Saya sendiri mengakui bahwa diri ini tidaklah mumpuni dalam hal Filsafat, bahkan apa yang tertulis diawal postingan itu murni merupakan ucapan dari salah seorang ahli. Lalu mengapa saya sampai berani menulis sesuatu yang tidak dikuasai? bukankah itu merupakan bentuk pembodohan?
Mohon maaf...
nanti setelah anda menyelesaikan membaca coretan saya, barulah anda simpulkan sendiri.
Tergelitik dari salah satu ucapan ahli diatas, entahlah... maaf, saya lupa siapa. Yang jelas... secara tersirat seakan mengajak sekaligus mengejek saya untuk memahami akan keindahan filsafat bila kita mampu memandang dan meresapi dari sisi yang berlainan dengan ketakutan akan ketidak-fahaman. Saya sendiri beusaha meyakinkan diri sendiri,,, sekaligus berusaha mencari kebenaran akan ucapan tersebut. Benarkah filsafat itu menyenangkan?
Sampai pada akhirnya saya memaksakan diri untuk membaca buku tentang Filsafat, tepatnya buku yang berjudul Pengantar Ilmu Filsafat karya Inu Kencana Syafiie yang kebetulan pada waktu itu adalah tentang Filsafat Keseimbangan.
Terus terang,, saya adalah seorang santri salafi-modern, yang berusaha menempati koridor tengah antara pembelajaran ilmu kuno dan saat ini.
...menurut yang saya fahami...
Dikatakan disana.. bahwa apapun yang tercipta didunia ini adalah tidak terlepas dari konsep keseimbangan. Benarkah demikian?
Sampai saya sendiri mulai terangsang untuk berpikir lebih jauh, hingga akhirnya disadarkan oleh fakta bahwa memang... hal itu benar adanya.
Siang dan malam, kanan dan kiri, laki-laki dan perempuan, kebaikan dan keburukan, dan semua hal didunia ini memang sudah tergariskan untuk menjadi penyeimbang bagi yang lainnya.
Jika tidak ada salah satu dari penciptaan yang saat ini kita istilahkan dengan berbagai istilah yang kita gunakan, maka akan berdampak pada ketiadaan satu sisi yang lainnya.
Sebagai contoh, kita bisa menggunakan istilah "malam", terhadap suatu keadaan dimana tidak adanya cahaya matahari yang menerangi. Itu berarti secara tidak sadar menggiring kita untuk dipaksa mengakui bahwa adanya malam, adalah karena adanya pula "siang", yang memang,, secara harfiah adalah siangnya telah berganti, tapi bukan berarti "tidak ada".
Secara logika saya bertanya,, mampukah anda menemukan istilah "malam" jika istilah "siang" ini tidak ada?
Artinya,, jika tidak ada matahari yang bersinar,,, itu berarti hanya ada kegelapan. dan kita tidak akan menemukan pengistilahan "malam", karena tidak ada "siang".
pun sebaliknya.
Begitu juga dengan kanan dan kiri, barat dan timur, luas dan sempit, tinggi dan rendah. Adalah menghasilkan suatu Fakta bahwa segala sesuatu ini diciptakan memang secara seimbang.
sampai disini Anda sependapat dengan saya?
Atau...
Mungkin anda bertanya, ,Bagaimana jika ada sesuatu yang diciptakan secara sendiri, atau tunggal. misalkan jantung, ataupun mulut, atau juga hidung. Adalagi biji tumbuhan monokotil, Atau... apapun itu yang menurut anda adalah sendiri dan tidak berpasangan, lalu mungkin saja anda berpendapat bahwa itu bukti ketidak-seimbangan?
Mohon maaf... karena menurut yang saya fahami, bagaimanapun suatu penciptaan itu sendirian dan tanpa pasangan, namun bukan berarti itu tidak seimbanng. Karena bila kita amati lebih dalam, kesendirian dalam penciptaan itu menyimpan hakikat yang lebih dalam dibandingkan dengan hal-hal yang secara jelas menampakkan ke-berpasang-an. Karena bagaimanapun,,, dia itu simetris, secara matematis itu berarti bahwa dia tetap seimbang bagi sebagian dari sisi lain daripada dirinya.
atau dari sudut pandang yang lain, bahwasanya jantung itu memang satu, tapi hakikatnya dia seimbang dalam melakukan tugasnya,, yakni memompa darah,, bersih dan kotor,, pulang dan pergi. Hidung pun demikian.
Bagaimana menurut Anda?
Semoga saja coretan saya ini ada manfaatnya.
Bagaimana menurut Anda?
Semoga saja coretan saya ini ada manfaatnya.

No comments:
Post a Comment